Senin, 30 Januari 2012

CATATAN KAKI DAN BIBLIOGRAFI

DAFTAR ISI
CATATAN KAKI DAN BIBLIOGRAFI
A.    CATATAN KAKI 1
1.      Pengertian Catatan kaki 1
a.      Untuk Menyusun Pembuktian 2
b.      Menyatakan Utang Budi 2
c.       Menyamapaikan Keterangan Tambahan 2
d.      Merujuk Bagian Lain dsri Teks 3
2.      Prinsip-prinsip Membuat Catatn Kaki 3
3.      Jenis Catatan Kaki 5
4.      Unsur-unsur Referensi 6
5.      Cara Membuat Catatn Kaki 7
6.      Singkatan-singkatan 11
7.      Penerapan Catatan Kaki dan Singkatan 12

B.     BIBLIOGRAFI 13
1.      Pengertian Bibliografi 13
2.      Fungsi Bibliografi 13
3.      Bentuk Bibliografi 13
4.       Unsur-unsur Bibliografi 13









BAB I
A.    CATATAN KAKI
1.      Pengertian Catatan Kaki
Yang dimaksud dengan cactan kaki adalah keterangan-keterangan atas teks karangn yang ditempatkan pada kaki halaman karangan yang bersangkutan. Bila karangn semacam itu ditempatkan pada akhir bab atau akhir karangan, maka cacatan semacam itu disebut keterangan.
Seperti telah diuraikan diatas (lihat kutipan), semua kutipan, entah kutipan langsung maupun kutipan tak langsung, harus dijelaskan mengenai sumber asalnya dalam sebuah cacatan kaki, kalu memang cara ini yang dipergunakan. Catatan kaki sementara itu bukan semata-mata bukan dimaksudkan untuk menunjukan tempat terdapatnya sebuah kutipan, tetapi dapat juga dipakai untuk member keterangan-keterangan lainya terhadap teks. Sebab itu catatan kakai dan bagian dari teks yang akan diberi penjelasan itu terdapat suatu hubungan yang sangat erat.
Hubungun antara catatan kaki dan teks yang dijelasakan itu biasanya dinyatakan dengan nomor-nomor penunjukan yang sama, baik yang terdapat dalam teks maupun maupun yang terdapat dalam cactan kaki itu sendiri. Selaim mempergunakan nomor-nomor penunjuk, hubungan itu kadang-kadang dinyatakan pula dengan mempergunakan tanda asterik atau tanda bintang[*] dan kadang-kadang mempergunakan tanda salib [†] pada halam yang bersangkutan. Bila pada halaman yang sama terdapat dua catatan atau lebih, maka dipergunakan satu tantda asterisk atau salib untuk catatan yang pertama, dan dua catatan yang kedua, dan seterusnya.
Lepas dari hubungan antara kutipan dan catatan  yang dinyatakan secara formal dengan tanda-tanda itu, pada dasarnya sebuah catatan kaki dibuat untuk maksud dan tijian sebagai berikut:


a.      Untuk Menyusun Pembuktian
Semua dalil atau pernyataan yang penting, yang bukan merupakan pengetahuan umum harus didikung oleh pembuktian-pembuktian. Pembultian itu dapat dibeberkan dalam teks, dapat pula dimasukkan dalam catatan kaki, atau kedua-duanya. Khususnya dalam hal ini , kita menunjukan kembali kebenaran-kebenaran yang pernah dicapai oleh seorang pengarang lain dalam bukunya atau tulisan-tulisanya. Sebab itu referensi atau penunjukan dalam catatan kaki itu dimaksudkan untuk menunjuka tempat atau sumber di mana suatu kebenaran telah dibuktikan oleh orang lain.
b.      Menyatakan Utang Budi
Di sampig tujuan pertama diatas, penujukan sunber pada catatan kaki dimaksudkan pula untuk menyataka utang budi kepada pengarang yang dikutip pendapatnya.
Sebuah catatan kaki wajib dibuat untuk setiap dalil, pendapat atau pernyataan yang penting, atau bagi setiap kesimpulan yang dipinjam dari pengarang lain, entah pinjaman itu berupa kutipan langsung maupun kutipan tak langsung
c.       Menyampaikan Keterangan Tambahan
Catatan kaki dapat pula dimaksudkan untuk menyampaikan keterangan tambahan untuk memperkuat uraian di luar persoalan atau garis-garis yang diperkenankan oleh laju teks.
Prinsip yang umum untuk hal ini adalah bahwa gerak atau laju dari teks atau karangan tidak boleh diganggu oleh referensi atau keterangan tambahan. Sebab itu keterangan-keterangan tambahan yang dimaksud untuk memperkuat teks karangan, dapat berbentuk:
1)      Menyampaikan inti sari sebuah fragmen yang dipinjam;
2)      Menyampaikan uaraian teknis, keterngan incidental, atau materi yang memperjelas teks, atau informasi tambahan terhadap topic yang disebut dalam teks;
3)      Menyampaikan materi-materi penjelas yang kurang penting, seperti perbaikan, atau pandangan-pandangan lain yang bertentangan.
d.      Merujuk Bagian Lain dari Teks
Di samaping itu catatan kaki dapat dipergunakan untuk menyediakan referensi kepada bagian-bagian lain dari tulisan itu. Dalam hal ini, penulis misalnya memberi catatan untuk melihat atau memeriksa uraian pada halaman atau bab lain sebelumnya, atau halaman-halaman atau bab lain yang akan diuraikan kemudian. Begitu pula penunjukan kepada Apendiks atau Lampiran harus melalui catatan kaki. Untuk maksud ini sering dijumpai sigkatan-singkatan sepeti: cf atau cof yang berarti bandingkan dengan, ut supra yang berarti seperti di atas, infra yang berarti di bawah.

2.      Prinsip Membuat Catatan Kaki
Untuk membuat sebuah catatan kaki, perlu diperhatikan beberapa prinsip sebagai berikut:
a.      Hubungan Catatan Kaki dan Teks
Seperti sudah dikemukakan di atas, hubungan antara keteragan pada catatan kaki dengan teks dinyatakan dengan mempergunakan nomer urut penunjukan baik yang terdapat dalam teks maupun yang terdapat pada catatan kaki. Baik nomer penunjukan dalam teks maupun nomer penunjukan pada catatan kaki selalu ditempatkan agak ke atas setengah spasi dari teks.

b.      Nomor urut  Penunjukan
Hal kedua yang perlu diperhatikan bagaimana menuliskan nomor urut penunjukan. Sama sekali tidak praktis untuk mulai nomor urut yang baru pada tiap halaman. Dalam hal yang demikian lebih baik mempergunakan nomor urut, maka sebaiknya nomor urut itu berlaku untuk tiap bab, atau untuk seluruh karangan. Pemakaian nomor urut yang berlaku untuk tiap bab, atau yang berlaku untuk seluruh karangan, masing-masing mempunyai konsekuensi sendiri-sendiri.
Bila nomor urut penunjukan hanya berlaku untuk tipa bab, maka konsekuensi yang pertama adalah bahwa tiap bab selalu dimolai dengan nomor urut berikutnya sampai pada akhir bab. Konsekuensi yang kedua adalah bahwa nama pengarang dan sumber yang untuk pertama kali disebut dalam satu bab, harus disebut secara lengkap. Penunjukan berikutnya atas sumber yang sama dalam bab tersebut akan mempergunakan singkatan lbid, nama singkatan pengarang dengan singkatan Op.cit., atau Loc.cit.
Sebaliknya bila nomor penunjuk itu berlaku untuk seluruh karangan, maka penunjukan sumber secara lengkap hanya dipergunakan untuk penyebutan pertama kali. Penunjukan berikutnya atas sumber yang sama dalam seluruh karangan itu akan mempergunakan singkatan lbid,. Atau nama singkatan pengarang atau ditambah singkatan Op.Cit., atau Loc.cit. tanpa mempersoalkan apakah itu terdapat penyebutan yang pertama dalam bab berikutnya.

c.       Teknik Pembuatan Catatan Kaki
Untuk sebuah naskah yang diketik, penempatan catatan kaki meminta pula persyaratan-persyaratan teknis tertentu. Syarat-syarat itu adalah sebagai berikut:
1)      Harus disediakan ruang atau tempat secukupnya pada kaki halaman tersebut sehingga margin bawah tidak boleh lebih sempit dari 3 cm sesudah diketik baris terakhir dari catatan kaki;
2)      Sesudah baris terakhir dari teks, dalam jarak 3 spasai harus dibuat sebuah garis, mulai dari margin kiri sepanjang 15 ketikan dengan huruf pika, atau 18 ketikan dengan huruf elite []
3)      Dalam jarak dua sepasi dari garis tadi, dalam jarak 5-7 ketikan dari margin kiri diketik nomor penunjukan;
4)      Langsung sesudah nonor penunjukan, setengah spasi kebawah mulai diketik baris pertama dari catatan kaki;
5)      Jarak antara baris dalam catatan kaki pada halam yang sama (kalau ada) adalah dua spasi;
6)      Baris kedua dari tiap catatan kaki harus dimulai daari margin kiri;




3.      Jenis Catatan Kaki
Sejalan dengan tujuan catatan kaki, sudah dikemukakan diatas, maka dapat diungkapkan sekali lagi bahwa jenis catatan kaki ada tiga macam, yaitu:
a.      Penunjuk Sumber (Referensi)
Macam catatan kaki yang pertama adalah menunjuk sumber tempat sumber kutipan terdapat. Catatan kaki semacam ini disebut juga sebagi referensi. Referensi itu harus dibuat oleh penulis bila:
1)      Mempergunakan sebuah kutipsn langsung;
2)      Mempergunakan sebuah kutipan tak langsung;
3)      Menjelaskan dengaan kata-kata sendiri apa yang telah dibaca;
4)      Meminjam sebuah table, peta atau diagram dari suatu sumber;
5)      Menyusun sebuah diagram berdasarkan data-data yang diperoleh dari suatu sumber, atau beberapa sumber tertentu;
6)      Meenyajikan sebuah evidensi khusus, yang tidak dianggap sebagai pengetahuan umum;
7)      Menunjuk kembali kepada bagian lain dari karangan itu.

b.      Catatan Penjelas
Adapun catatan kaki yang dibuat dengan tujuan membatasi suatu pengertian, atau menerangkan atau member komentar terhadap suatu pernyataan atau pendapat yang dimuat dalam teks. Penjelasan ini harus dibut dalam catatan kaki, dan tidak dimasukkan dalam teks karena akan mengganggu jalannyauraian dalam teks itu. Catatan semacam ini disebut catatan penjelas, karena fungsinya hanya member penjelas tambahan.
c.       Gabungan Sumber dan Penjelas
Jenis yang ketiga adalah gabungan dari kedua macam catatan diatas, yaitu pertama menunjuk sumber dimana dapat diperoleh bahan-bahan dalam teks, dan kedua member komentar atau penjelasan seprlunya tentang pendapat atau pernyataan yang dikutip tersebut, atau keterangan-keterangan tambahan yang ada hubungan dengan sumber itu.
4.      Unsur-Unsur Referensi
Unsur-unsur catatan kaki yang menyamgkut referensi, sama dengan materi bibliografi;perbedaannya terletak dalam penekanan. Disamping itu ada perbedaan yang cukup penting yaitu referensi selalu mencantumkan nomor halam, di mana kutipan itu dapat diperoleh. Dalam bibliografi itu tidak ada, kecuali penyebutan jumlah halaman dari karya itu.
Cara membuat catatan kaki bagi setiap jenis kepustakaan, hendaknya diketahui terlebih dahulu ikhtisar-ikhtisar unsure-unsur dibawah ini. Disamping unsure-unsur catatan kaki terssebut, hendaknya diperhatikan pula konvensi-konvensi yang berlaku bagi catatan-catatan kaki.
a.      Pengarang
1)      Nama pengarang dalam catatan kaki dicantumkan sesuai dengan urutan biasa.
2)      Bila terdapat lebih dari seorang pengarang maka semua nama pengarang dicantumkan kalau ada dua atau tiga nama pengarang.
3)      Penunjukan kepada sebuah kumpulan.
4)      Jika tidak ada nama pengrang atau editor, maka catatan kaki dimulai dengan judul buku atau judul artikel.

b.      Judul
1)      Semua judul mengikuti peraturan yang sama seprti pada bibliografi.
2)      Sesudah catatan kaki pertama, maka pada penyebutan kedua dan seterusnya atas sumber yang sama, judul buku dan sebagainya.
3)      Sesudah penunjukan pertama kepada sebuah artikel dalam majalah atua harian, maka untuk selanjutnya cukup dipergunakan judul majalah atau harian tanpa judul artikel.





c.       Data Publukasi
1)      Tempat dan tahu npenerbitan sebuah buku dapat dicantumkan pada referensi pertama;referensi-referensi selanjatnya (dalam kesatuan nomor urut itu) ditiadakan.
2)      Dapat dipublikasi bagi sebuah majalah, tidak perlu memuat nama tempat dan penerbit, tetapi harus mencantumkan nomor jilid  dan nomor halam.
3)      Data sebuah publikasi bagi artikel sebuah harian terdiri dari; bulan, hari tanggal, tahun dan nomor halaman. Penggalan tudak bole ditempatkan dalam tanda kurung.
d.      Jilid dan Nomor Halaman
1)      Untuk buku yang terdiri dari satu jilid, maka singkatan halaman (hlm.) dipakai untuk menunjukan nomor nalaman.
2)      Jika sebua buku terdiri dari beberapa jilid, maka harus dicantukan nomor jilid dan nomor halaman. Untuk nomor jilid dipergunakan angka romawin sedangkan untuk untuk nomor halaman dipergunakan angka Arab, tanda singkatan hlm.
5.      Cara Membuat Catatan Kaki
Karena cara membuat catatan kaki mempunyai hubungan pula dengan dengan teks halaman yang sama, maka dalam dua contoh pertama disertakan pula bagian dari teks yang menunjukan kepada catatan kaki, sehingga dapat dilihat sekaligus cara menempatkan nomor penunjukan yang terdapat dalam teks, garis pemisah antara teks dan catatan kaki, serta cara membuat catatan kaki itu sendiri. Titik spasi berspasi yang mendahului dan mengikuti contoh teks berarti ada lebih dari satu alinea yang dihilangkan sebelum dan sesudah teks yang dikutip tersebut
a.      Referensi kepada Buku dengan Seorang Pengarang
………………………………………………………………………………………kekerabatan umat manusia di seluruh dunia menyebabkan bahwa didalam menganalisa suatu suatu kekerabatan di dalam suatu masyarakat itu, mereka memandang istilah-istilah itu sebagai proses-proses hubungan kemasyarakatan. Demikian system-sistem kekrabatab itu…
……………………………………………………………………………………..———————
F.Graebner,Etnologie in die Kulture der Ggegenwart (Leibzig,1923), hlm. 544.
b.  Referensi kepad Buku dengan Dua atau Tiga Pengarang
………………………………………………………………………………………dan menganalisa riwayat-riwayat hidup dari beberapa induvidu yang di pilih dari antara semua penduduk desa Antimelang di Alor itu dan dengan metode-metode penguji isi jiwa atau ptojectife test method. Hasil……
………………………………………………………………………………………——————
L.Gottschalk,C. Kluckhohn, R.Anggell The Use of Personal documents in History, Antropology (New York: Social Science Research Council, 1945), hlm. 82-173.
c.  Referensi kepad Buku dengan Banyak Pengarang
Mulai dari contoh ini dan seterusnya, kutipan teks beserta garis pemisah ditiadakan, langsung diberi petunjuk dari referensi itu.
            Alton C.Morris, et al., Collega, the frist year (New York, 1964), hlm. 51-56.

d.      Kalau Edisi Berikutnya Mengalamai Perubahan
H. A. Gleason, An.Introduction to Descriptive Linguistic (rev.ed.;New York, 1961), hlm.56.

e.       Buku yang Terdiri dari Dua Jilid atau Lebih
A.    H. Lightstone, Concepts of Calculus (New York: Harper & Row, 1966), l, 75.
f.       Sebuah Edisi dari Karya Seorang Pengarang atau Lebih
Lukman Ali, ed., Bahasa dan Kesustraan Indonesia, sebagai Cermin Manusia Indonesia Baru (Djakarta, 1967), hlm.84-85.

g.      Sebuah terjemahan
Multaluli, Max Havelaar, atau Lelang Kopi Persekutuan Dgang Belanda, terj.H.B. Jassin (Djakarta, 1972), hlm.50.
h.      Artikel dalam Sebuah Analogi
            Devid Riesman,”Character and Society,”Toward Liberal Education, eds.Louis G. Locke, William M. Gibson, and George Arms (New York, 1962), hlm. 572-573.
i.        Artikel dalam Ensiklopedi
Robert Ralph Bolgar,”Retoric,”Encyclopedia Britannica (1970), XIX,257-260.

j.        Referensi pada Artikel Majalah
Ny. H. Soebadio,”Penggunaan Sangsekera dalam Pembentukan Istilah Baru,”Majalah Ilmu-ilmu Sastra Indonesia, (April,1963), hlm. 47-58.
k.       Referensi pada Artikel Harian
Tajuk Rencana dalam Kompas, 19 Januari, 1973, hlm.4.
l.        Tesis dan Disertasi yang Belum Diterbitkan
Jos. Dan. Parera, “Fonologi Bahasa Gorontalo” (Skripsi Sarjana, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta, 1964), hlm.30.

m.    Referensi kepad Dua sumber atau Lebih
M.J. Herskovits, Man and HiscWorks: the Science of Cultural Antropology (New York: Alfred A. Knopf, 1948), hlm.501;A.A Goldenwaiser, The Principles of Limited Posibilities in the Development of Cultural (London: Kegan Paul, Trench, Trubner & Co., 1033), hlm. 35-55.

n. Referensi dari Sumber Kedua
M. Ramlan, “Partikel-partikel Bahasa Indonesia,”Seminar Bahasa Indonesia1968 (Ende:Nusa Indah, 1971), hlm. 122, mengutip Charles F. Hockett, A Course in Modem Linguistic (New York: The Mac Millan Company, 1959), hlm.222.
o.      Catatan Penjelas
Semua cara di atas mempersoalkan catatan kaki yang menumjukan kembali kepada sebuah sumber referensi. Tetapi seperti yang sudah dijelaskan, catatan kaki dapat pula dimaksudkan untuk member kometar atau menjelaskan sesuatu yang diuraikan dalam teks. Dalam hal yang demikian tidak ada sumber yang perlu dimasukkan dalam cactatan kaki. Contoh di bawah ini sekaligus memperlihatkan bagian terakhir dari teks, garis pemisah, dan catatan kaki yang dimaksud.Dengan demikian wujud dari catatan kaki itu akan lebih jelas.
……………………………………………………………………………………....
Adapun metode=metode yang dipakai oleh C, Bateson dan M. Maed untuk mengumpulkan bahan keterangan tentang model personality structure orang Bali adalsh metode menyelidiki cara-cara asuhan anak-anak di dalam masyarkat orang Bali. Hasil fieldwork M.Mead dam G. Bateson menghasilkan juga beberapa karang tentang tabiat orang Bali……….
……………………………………………………………………………………..——————

p.      Referensi dan Sumber Penjelas
Jenis catatan yang ketiga adalah penunjuk kepada sebuah sunber ditambah penjelas atau komentar-komentar. Seperti halnya dengan catatan penjelas di atas, maka agar komentar dalam catatan kaki itu lebih jelas posisinya contoh berikut disertai pula oleh bagian terakhir dari teks yang mengandung hal yang perlu dijelaskan itu.
……………………………………………………………………………………..Di dalam rangka kompleks pengertian yang dimaksud di dalam faham tersebut, J. Mallinckrodt menganggap amat penting, kepercayaan kepada kekuatan sakti atau kekuatan “magic” yang meliputi seluruh alam semesta. Kepercaan serupa itu, yang disebut oleh Mallinckrodt kepercayaan..
……………………………………………………………………………………..——————
J. Mallinckrodt, Het Adatrecht van Borneo (Laiden: M. Dubbeldeman, 1928), l, 50. Demikianlah  Mallinckrodt member pengetian yang lain sama sekali kepada istilah magic, dari pada misalnya J.G. Frazer atau sebagian besar daripada sarjana ilmu antropologi budaya akan mengartikannya. Menurut Mallinckrodt, kekuatan magic adalah kekuatan sakti. Menurut Frazer, magic adalah ilmu gaib.

6.      Singkatan-singkan
Dalam catatan kaki biasanya dipergunakan pula singkatan-singkatan yang oleh para sarjana sudah diketahui maksudnya. Oleh sebab itu, hendaknya diperhatikan benar-benar bagaiman mempergunakan singkatan-singkatan itu dalam catatan kaki.
Singkatan yang paling penting yang harus diketahui adalah ibid., op.cit.,dan loc.cit.
Ibid.: Singkatan ini berasal dari bahasa latin ibidem yang berarti pada tempat yang sama. Singkatan ini dipergunakan bila catatan kaki yang berikut menunjukan kepada karya atau artikel yang telah disebut dalam catatan nomor sebelumnya. Bila halamannya sama, maka hanya dipergunakan singkatan ibid.; bila halamannya berbeda maka sesudah singkatan ibid. Dicantumkan pula nomor halamannya. Singkatan ibid. selalu digarisbawahi atau dicetak dengan huruf miring.




7.      Penerapan Catatan kaki dan Penerapan
Cara menggunakan singkatan-singkatan dalam kenyataan, lihat contoh dibawah ini:
a.       Edgar Surtevant,  An Introduction to Linguistics Secience (New Haven, 1947), hlm. 20 et seq.
b.      Ibid.
c.       Ibid. hlm. 30.
d.      Richard Pittman, “Nauhatl Honorifics,”International Journal of American Linguistics, XI (April, 1950), 374 et seqq.
e.       H.A. Gleason, An Introduction to Deskriptive Linguistics,(Rev. ed.; New York: Holt, Rinehart and Winston, 1961), hlm. 51-52.
f.       Ibid.
g.      Ibid. hlm. 56.


















B. BIBLIOGRAFI
1. Pengertian Bibliografi
Yang dimaksuftar dengan bibliografi atau  daftar kepustakaan adalah ssebuah daftar yang berisi judul buku-buku, artikel-artikel, dan bahan-bahan penerbit lainnya, yang mempunyai pertalian dengan sebuah karangan atau sebagian dari karangan yang tengah digarap.
2. Fungsi Bibliografi
Fungsi bibliografi hendaknya secara tegas dibedakan dari fungsi sebuah catatan kaki. Referensi pada catatan kaki dipergunakan untuk menunjuk kepada sumber dari pernyataan atau ucapan yang dipergunakan dalam teks. Sebab itu referensi harus menunjukan dengan tepat, di mana pembaca dapat menemukan pernyataan atau ucapan itu. Dalam hal ini selain pengarang, judul buku dan sebagainya, harus dicantumkan pula nomor halam di mana pernyataan atau ucapan itu bias dibaca.
3. Unsur-unsur Bibliografi
Pokok yang paling penting yang dimasukkan dalam sebuah bibliografi adalah:
1)      Nama pengarang yang dikutip secara lengkap.
2)      Judul buku, termasuk judul tambahannya.
3)      Ata Publikasi:penerbit, tempat terbit, tahun terbit cetakan keberapa, nomor jilid, dan tebal (jumlah halaman) buku tersebut.
4)      Untuk sebuah artikel diperlukan pula judul artikel yang bersangkutan, nama majalah, jilid, nomor dan tahun.
4. Bentuk bibliografi
Bibliografi disusun menurut urutan alfabetis dari nama pengarangnya. Untuk maksud tersebut nama-nama pengarang harus dibalikkan susunannya: nama keluarga, nama kecil, lalu gelar kalau ada. Jarak antra baris dengan baris adalah sepasi rapat. Jarak antara pokok dengan pokok adalah spasi ganda. Tiap pokok disusun sejajar secara vertical, dimulai dari pinggir margin kiri, sedangkan baris kedua, ketiga dan seterusnya dari tiap pokok dimasikkan kedalam tiga ketikan (bagi karya yang mempergunakan limaketikan kedalam untuk alinea baru) atau empat ketikan (bagi karya yang mempergunakan 7 ketikan kedalam untuk alinea baru). Bila ada dua karya atau lebeh ditulis oleh pengarang yang sama, maka pengulangan namanya dapat ditiadakan dengan menggantikannya dengan sebuah garis panjang, sepanjang lima atau tujuh ketikan, yang disusul dengan sebuah titik.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar